• Facebook
  • YouTube
  • Instagram

0859-4528-6421

©2019 by Anici Studio

Search

Memotret dengan ISO Tinggi, amankah?

Updated: Feb 14

Pertanyaan diatas banyak dilontarkan oleh fotografer. ISO sendiri merupakan sebuah sensitivitas sensor terhadap cahaya yang masuk ke dalam kamera. Berbeda dengan ASA (istilah film) yang bisa diganti-ganti, setiap kamera digital hanya memiliki 1 sensor saja yang memiliki ISO bawaan. dengan kita menaikkan ISO berarti kita mengamplifikasi signal yang masuk kedalam kamera (bukan mengganti sensor yang ada di dalam kamera). Hal itu menyebabkan bertambahnya noise pada foto. Biasanya kamera digital memiliki native ISO diantara 200-400 Saya sendiri memiliki banyak teman yang takut memotret jika menggunakan ISO tinggi karena takut fotonya menjadi "berbintik-bintik" atau noise. Secara general ISO 1600 keatas sudah bisa dikategorikan menggunakan ISO tinggi. Sekarang coba apakah kalian bisa membedakan dari kedua foto tersebut mana yang menggunakan ISO tinggi?


ISO comparison || photo by @yedijaluhur || Talent by veronica

Yak, kedua foto tersebut sama2 menggunakan ISO yang tinggi, yaitu 3200. Sekarang coba bandingkan dengan foto dibawah ini.


Foto diatas diambil menggunakan ISO 400. Apakah kalian melihat perbedaan yang signifikan dengan foto yang sebelumnya disini? Jika tidak, itu berarti kemungkinan anda menggunakan layar handohone untuk melihat, sehingga dengan resolusi yang kecil, noise tidak akan terlalu terlihat. Jika secara teori kita diajarkan untuk menggunakan ISO tinggi di dalam gelap, dan ISO rendah di keadaan terang, hal itu hanyalah setengah benar saja. Karena ada beberap kondisi dimana kita harus menyesuaikan dengan kebutuhan foto kita, dan juga kebutuhan klien yang bersangkutan.


1. Penggunaan ISO disesuaikan dengan kebutuhan viewing content


Sebelum anda memilih ISO untuk pemotretan, tanyakan dulu kepada diri anda sendiri, foto yang akan diambil ini, apakah untuk ditampilkan di sosial media, aoakah akan dicetak banner, ataukah sampai bakal dicetak ke billboard?


Setelah anda mengerti tujuan foto tersebut anda barulah memilih ISO. Saya sendiri untuk kepentingan komersial (company profile, product, fashion) biasanya tidak menggunakan ISO lebih dari 1600 jika memungkinkan. Dan jika saya hanya memotret untuk kepentingan sosial media seperti instagram, atau hanya dilihat di handphone saja, saya dengan senang hati menaikkan ISO saya ke 6400 bahkan lebih.. Bahkan untuk memotret event (wedding, konser) pun saya sering menggunakan ISO 6400 keatas karena saya menyadari momen lebih penting daripada noise yang ada pada foto.


Grace & Swingly || ISO 12800 || Photo @yedijaluhur || Courtesy of camio pictures
Rendy & Anggi || ISO 12800 || Photo @yedijaluhur || Courtesy of Wise

Kedua foto diatas diambil dengan menggunakan ISO 12.800 dikarenakan kondisi yang sangat gelap. Pertanyaannya mengapa saya tidak menggunakan flash saja, agar bisa membuat ISO lebih rendah?


Penggunaan flash seringkali mengganggu ambient light yang ada dan juga bagi orang video, flash akan menjadi sangat mengganggu. Selain itu akan flash akan membuat orang/benda yang ada di depan kamera menjadi over exposure, sedangkan background menjadi gelap. Contohnya bila saya menggunakan flash pada foto pertama yang "Grace Swingly" itu, makan alhasil penari tersebut akan terang, dan background kedua pengantin tersebut menjadi gelap. Dan pada foto kedua jika sayang menggunakan flash, bokeh yang ada di belakang pasangan tersebut tidak akan terlihat lagi, sedangkan saya memilih memotret low angle, selain untuk agar tidak mengganggu moment mereka, yaitu agar crowd tidak terlalu terlihat dan ada biasa outdoor berupa bokeh tersebut.


Sebagian besar foto sekarang pada umumnya hanya diupload ke sosial media, dan hanya akan dilihat di layar yang kecil saja, sehingga ISO yang tinggi pun pada umumnya bukan menjadi masalah. Bahkan penggunaan ISO tinggi, dicetak sampai ukuran A4 atau bahkan A3 pun bisa saja masih sangat bersih jika kalian menggunakan kamera full frame.


2. Sadar kemampuan kamera anda


Setiap kamera mempunyai kemampuan ISO yang berbeda-beda. Sekarang banyak kamera yang memarketingkan dirinya memiliki ISO hingga ratusan ribu bahkan jutaan, Tetapi kalian jangan tertipu dengan marketing tersebut. Karena mungkin kamera tersebut mampu mencapai ISO tersebut, tetapi hasil fotonya tidak akan bisa digunakan, berikut adalah 2 contoh, yaitu 5D mark IV dengan iso 100000 dan nikon D5 dengan iso 3 juta nya.


5D mark IV ISO 100.000
nikon D5 iso 3.000.000

Melihat 2 perbandingan diatas, personallu, saya tidak akan pernah memotret dengan ISO 100.000, kecuali jika hanya untuk preview saja, dan untuk gambar kedua, meskipun nikon D5 memiliki marketing sampai dengan ISO 3 juta untuk memotret, hasil gambanya sangat tidak bisa digunakan, dan bahkan untuk previewpun tidak layak. Jadi menurut saya ISO yang terlalu tinggi hanyalah sebuah bahasa marketing yang tidak terlalu berguna di kehidupan nyata. Sama halnya dengan megapixel yang over pada handphone juga.


Pada umumnya, hal yang paling berpengaruh adalah ukuran sensor. Semakin besar sensor pada kamera, maka kemampuan ISO nya akan lebih bagus. Pengalaman saya yaitu dengan kamera full frame, ISO 3200 keatas sampa 12.800 pun hasil fotonya masih sangat usable. Sedangkan untuk kamera APS C, mencapai 3200 masih aman, sedangkan untuk micro 4/3 ISO 1600 mungkin adalah batasan sebelum noise terlalu terlihat pada foto.


Pelajari kemampuan kamera anda dan seringlah mencoba menggunakan berbagai macam ISO agar kalian tahu karakteristik kamera yang kalian miliki, karena tiap brand pun memiliki kemampuan Noise reduction yang berbeda.


4. Pada kamera digital, ISO memiliki hubungan yang erat dengan megapixel


Kamera digital jaman sekarang tertutama untuk konsumer biasanya dimarketingkan dengan megapixel yang besar. Sedangkan yang terjadi sebenarnya adalah semakin besar megapixel, maka noise performance pada suatu kamera akan berkurang.

Saya ambil contoh 2 jenis kamera yaitu sony A7S mark ii yang beresolusi 12 megapixel saja dan sony A7R mark ii yang beresolusi 42 megapixel.


https://www.cinema5d.com/sony-a7s-ii-vs-a7r-ii-test-which-one/

Sangat terlihat jelas meskipun merupakan sama-sama kamera full frame, dan dengan teknologi pada jaman yang sama, Sony A7S II (atas) Memiliki keunggulan noise yang sangat jauh dibandingkan A7R II (bawah) terlepas memiliki resolusi yang kecil hanya 12 megapixel, bahkan sama dengan iphone, dan lebih kecil dari resolusi handphone samsung pada umumnya.


Intinya jika kalian memilih kamera beresolusi tinggi, kalian akan mengorbankan ISO performance. Dan jika fokus kalian memang ada pada video, makan sebaiknya pilih kamera yang memiliki resolusi rendah yang dapat memberikan ISO performance yang tinggi.

5. Ga masalah Motret pake ISO tinggi, kan bisa di denoise pada software


Bukan berarti jika kalian memiliki kamera yang canggih dengan kemampuan ISO yang tinggi, kalian akan sangat bebas menggunakan ISO berapapun. Foto memang bisa di denoise menggunakan software, tetapi hasilnya akan menjadi sangat soft dengan detail yang hilang. Berikut adalah salah satu contohnya. Foto dibawah ini saya ambil dengan kamera 5D mark IV, ISO 12.800 - F1.4 - Speed 1/60 tentunya dengan keadaan yang sangat gelap disana. Dan gambar setelahnya adalah perbandingan hasil zoom 100% setelah menggunakan filter denoise.



Denoise comparison ISO 12.800

Foto disebelah kiri adalah zoom 100% dari foto diatas, sedangkan di sebelah kanan adalah hasil noise reduction dari foto tersebut. Dapat dilihat bahwa menskiopun noise menjadi hilang, tetapi detail pada rambut dan kulit menjadi berkurang sangat drastis.


6. Saya ingin mencetak foto, berapakah ISO yang seharusnya digunakan? Pertanyaan diatas juga sering ditanyakan kepada saya. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan masalah ISO pada pencetakan. Media yang sangat berpengaruh kepada hasil cetak adalah pemilihan kertas. Contohnya teman saya pernah mencetak foto keluarga dengan bahan kanvas ukuran 1 meter lebih dengan menggunakan foto yang dijepret dengan ISO >3200 pun hasilnya masih sangat bagus dikarenakan media bahan kanvas tidak terlalu menonjolkan noise dibandingkan dengan media cetak lain seperti kertas albatros, art paper, dll..


Juga selain itu jarak pandangpun mempengaruhi noise yang terlihat. Misalnya foto pada kanvas yang saya contohkan diatas, jika dilihat sangat dekat jarak pandang <30 cm mungkin akan terlihat beberapa noise yang masih ada, tetapi foto yang dicetak dengan ukuran bermeter-meter biasanya hanya akan dipajang di dinding yang kita melihatnyapun dengan jarak lebih dari 2 meter, sehingga noise pun tidak akan terlihat.


Kesimpulannya,

jika kalian memotret, gunakan ISO serendah mungkin yang masih memungkinkan. Jika memang anda sering memotret di tempat gelap tanpa menggunakan flash, belilah kamera full frame karena memiliki ISO performance yang bagus, atau setidaknya belilah lensa cepat dengan bukaan F1.4 atau F2 untuk memperbanyak jumlah cahaya yang masuk dan juga menghasilkan bokeh pada foto juga. Kika masih kurang, mungkin baru saatnya mempertimbangkan tambahan lighting, baik dengan flash on camera ataupun strobist (off camera).







10 views